SJAHSJAM SUSILO

Enlightening People through Mind Setting

Dimanakah Letak Kebahagiaan

POSTED ON 16 JANUARY 2017

Di suatu siang yang cerah, saya menerima telepon dari seorang teman lama yang mengajukan pertanyaan kepada saya: “Bagaimana caranya agar bisa tetap bersama Tuhan dan menyatu dengan Tuhan?”
Teman ini sebut saja bernama Pak Arif, menyatakan bahwa dalam perjalanan ibadahnya Beliau merasa telah menemukan Tuhan dalam kekhusyuannya dan begitu berbahagia karenanya. Namun setelah itu Pak Arif merasa kesulitan untuk bisa menyatu lagi dengan Tuhan dan bertanya bagaimana cara yang efektif agar bisa kembali bertemu Tuhan dan menyatu dengan Tuhan seperti yang pernah dialaminya.

Menanggapi hal ini, saya mengatakan bahwa saya perlu memahami makna “Bertemu dan menyatu dengan Tuhan” seperti yang Pak Arif sampaikan, agar saya bisa berada dalam satu komunikasi yang selaras dengannya, walau saya menyadari bahwa jika berbicara tentang Tuhan maka ini adalah hal yang sangat pribadi dan melibatkan sistem kepercayaan (belief system) masing-masing pihak, namun tetap, saya merasa perlu untuk memahami pemikiran Pak Arif tentang makna tersebut.
Pak Arif menyatakan bahwa menyatu dengan Tuhan yang dimaksudkannya adalah merasakan suatu kebahagiaan yang sukar untuk dilukiskan, merasa begitu damai, tenang dan bahagia serta ada tuntunan untuk menjalani kehidupan ini. Dengan kata lain, secara sederhana dan garis besarnya, Pak Arif ingin mencari, merasakan dan menyatu dengan kebahagiaan.

Apa yang Pak Arif sampaikan adalah keinginan rata-rata manusia untuk bisa berbahagia. Saya pun termasuk orang yang pernah berpikir apa, bagaimana dan dimanakah letak kebahagiaan itu?
Saya kemudian menyampaikan suatu ilustrasi sebagai berikut:
Suatu ketika ada seekor Ikan Kecil yang sedang bertualang untuk mencari kebahagiaan. Ia bertanya tentang apakah kebahagiaan itu dan dimanakah letaknya kepada setiap ikan yang ditemuinya. Dalam pencariannya, Ikan Kecil bertemu dengan seekor Ikan Karang yang menyampaikan kepadanya bahwa ia bisa menemui Ikan Tua di karang terjal yang bisa memberitahukannya tentang apa dan dimana letak kebahagiaan yang ia inginkan tersebut.

Dan tanpa menemui kesulitan, Ikan Kecil berhasil menemui Ikan Tua di karang terjal. Ikan Kecil kembali mengulangi pertanyaan yang selalu dilontarkannya: “Wahai Ikan Tua yang bijaksana, bisakah Anda memberitahuku apakah kebahagiaan itu dan dimanakah letaknya?”
Ikan Tua menjawab: “Ikan Kecil, untuk memahami apa itu kebahagiaan maka bersyukurlah. Dan kebahagiaan itu ada di dalam dirimu dan engkau sendiri ada di dalam kebahagiaan; kebahagiaan ada di sekelilingmu.” Ikan Kecil nampak tidak puas dengan jawaban ini dan juga bingung. Ikan Tua yang memahami situasi ini, lantas melanjutkan: “Ikan Kecil, salah satu perumpamaan tentang kebahagiaan yang kumaksudkan adalah air, kamu tidak perlu mencarinya kemana-mana karena ia ada di sekelilingmu, air berada di dalam dirimu dan kamu pun berada di dalamnya, air adalah kehidupan kita, ketika air tidak berada pada dirimu dan/atau kamu tidak berada di dalamnya, maka tidak ada lagi kehidupan pada dirimu.
Kebahagiaan telah ada bersama dirimu ketika engkau hadir di dunia ini, menyertaimu kemanapun engkau pergi, dimanapun dan kapanpun engkau berada.
Setiap dari kita telah berada pada kebahagiaan kita masing-masing, hanya saja kita mau menyadari dan mengakuinya atau tidak. Untuk bisa lebih memahami kebahagiaan, maka bersyukurlah atas apa adanya dirimu………”

Seiring kata-kata yang terdengar semakin menjauh namun terasa semakin menggema bagi Ikan Kecil, Ikan Tua pun berlalu, menghilang bagaikan buih yang membuyar.
Ikan Kecil berdiam diri cukup lama, berupaya untuk menyerap dan menerjemahkan apa yang baru saja didengarnya. Ikan Kecil nampak cukup paham dengan penjelasan tadi, namun merasa masih belum cukup puas dan ingin mengetahui lebih detil lagi.

Sambil tetap berpikir, Ikan Kecil pun berbalik ke arah semula dirinya datang. Disetiap perjalanan, Ikan Kecil kembali bertanya pada setiap ikan yang ditemuinya, hanya saja pertanyaannya kali ini lebih terstruktur dan jelas: “Wahai sahabat, apakah engkau pernah merasa bahagia? Jika ya, kebahagiaan seperti apa yang pernah engkau rasakan?”
Rata-rata ikan yang ditemuinya, menjawab pernah, dan kebahagiaan yang mereka rasakan dijawab secara beragam oleh mereka antara lain:
a. Saya tidak tahu apakah kebahagiaan itu, tetapi yang saya tahu adalah ketika saya tidur, esokannya saya terbangun lagi dengan kondisi tubuh yang sama seperti sebelumnya, merasa sehat, jasmani lengkap dan tidak kurang suatu apapun juga.
b. Ketika saya bersama pasangan saya, hanya kehangatan dan kegembiraan yang saya rasakan dan saya berterimakasih karena bisa hidup bersama pasangan saya.
c. Ketika anak-anak kami bisa bergembira bermain dan bercengkerama dengan kami, hanya kebahagiaanlah yang kami rasakan, sekalipun kehidupan kami biasa-biasa saja tidak bergelimang harta benda.
d. Ketika kami bisa merasakan hangatnya sinar mentari, segarnya alam sekeliling dan tersedia melimpahnya semua kekayaan alam, kami merasa bahagia.
e. Saya merasa berbahagia, karena saya memutuskan untuk berbahagia saja.

Ikan Kecil merenung lebih jauh dan tiba pada suatu pemahamannya sendiri bahwa:
  • Kebahagiaan sudah ada semenjak keberadaan setiap individu di dunia.
  • Kebahagiaan ada pada diri setiap individu dan sebaliknya setiap individu telah berada di dalam kebahagiaan hanya saja hal tersebut disadari atau tidak, dan setelah menyadarinya lantas mau mengakuinya atau tidak.
  • Kebahagiaan mencakup mulai dari hal-hal penting/besar hingga hal-hal sederhana pada kehidupan setiap individu.
  • Kebahagiaan adalah keputusan setiap individu untuk merasa berbahagia.
  • Namun Ikan Kecil merasakan, bahwa tetap ada suatu hal penting, yang dirasakannya masih samar-samar. Dimana hal penting tersebut mendasari kebahagiaan bagi setiap pihak yang ditanyainya tersebut dan membuatnya berpikir terus.

    Sambil tetap berpikir dan berjalan, tanpa disadarinya, Ikan Kecil tertangkap oleh serangkaian jala nelayan, terangkat naik ke udara dan meronta tanpa daya di dalam ringkusan jala.
    Di tengah deraan rasa panik, terkejut, sakit, takut, derita dan putus asa yang kuat, Ikan Kecil seketika langsung menyadari, memahami dan menjadi jelas tentang apa hal penting yang mendasari kebahagiaan setiap pihak yang ditanyainya tadi, bahwa hal paling mendasar dari suatu kebahagiaan bukanlah tercapainya harapan yang diinginkan, melainkan rasa bersyukur atas apa adanya situasi mereka.

    Tercapainya harapan yang diinginkan adalah langkah/tingkatan berikutnya dari hal paling mendasar suatu kebahagiaan.
    Karena tercapainya harapan yang diinginkan belum menjamin suatu individu menjadi puas. Bisa saja ia tetap merasa ada hal yang kurang sempurna dan menginginkan yang lebih dan lebih lagi tanpa hentinya, dimana hal ini bisa membuat suatu masalah baru berupa penderitaan karena merasa belum mendapatkan yang diinginkan secara sempurna.
    Akan tetapi hal ini bukan berarti suatu individu harus puas dengan pencapaian satu tahap saja dan tidak perlu melanjutkannya lagi, namun ini lebih berupa pemahaman bahwa dengan bersyukur, suatu individu menjadi lepas dari tekanan/beban, karena dengan bebasnya suatu individu dari tekanan justru pencapaian yang diharapkan ke tahap berikutnya bisa dicapai dengan lebih mudah dan lancar. Dan untuk bisa bersyukur, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menerima segala kondisinya sebagaimana adanya.

    Ikan Kecil bisa merasakan sekarang bahwa betapa ia seharusnya bersyukur ketika ia masih bisa bergerak dengan bebas di air tempat ia hidup dan berada, ketika ia masih bisa berinteraksi dengan teman-temannya, ketika ia masih bisa menentukan kehidupannya sendiri. Namun semua itu ternyata adalah saat-saat sebelum ia diringkus oleh jala nelayan.
    Dengan pemahaman-pemahaman yang ada, Ikan Kecil menyadari juga bahwa di setiap kondisi yang dialaminya ia harus menerima dahulu segala sesuatunya sebagaimana adanya, karena suatu penerimaan membuat diri menjadi tenang dan sabar.
    Namun kesabaran yang dimaksud disini bukanlah kesabaran yang seperti halnya keledai yang dibebani oleh beban yang begitu banyak di punggungnya yang menerima dan menerima beban dengan “sabar” tanpa berbuat apapun sampai akhirnya sang keledai mati karena kelelahan dan penderitaan.

    Kesabaran yang dimaksud adalah kesabaran yang disertai dengan semangat, yaitu ketika sedang dirundung masalah, maka setelah menerima segala situasinya sebagaimana adanya, hal selanjutnya yang dilakukan adalah meningkatkan semangat untuk mencari solusi/jalan keluarnya.
    Berpikir demikian, Ikan Kecil lantas menenangkan diri dengan cara menerima situasinya sekarang di dalam ringkusan jala, tidak lagi mengedepankan rasa takut dan putus asa.

    Dengan ketenangan yang telah terbangun Ikan Kecil segera menaikkan semangat dan mencermati segala kemungkinan yang ada untuk mempertahankan hidupnya dan membebaskan dirinya dari ringkusan jala nelayan.
    Dalam ayunan ringkusan jala nelayan, Ikan Kecil mendadak melihat ada rangkaian jala nelayan yang rapuh dan menciptakan sebuah lubang yang cukup untuk dilalui ikan seukuran dirinya. Memompa semangat dan tekad, Ikan Kecil menggeliatkan dirinya mendekati lubang tersebut.
    Setelah melalui tekad yang kuat dan upaya tanpa henti, Ikan Kecil akhirnya mencapai lubang tersebut dan dengan satu hentakan kuat Ikan Kecil meloloskan dirinya meluncur kembali ke habitatnya di samudera yang luas. Ikan Kecil pun selamat.
    Beristirahat di dasar karang, Ikan Kecil merenung semua kilas balik perjalanannya tadi. Ikan Kecil telah memahami apa yang disampaikan Ikan Tua tentang kebahagiaan tadi dan hal ini membuatnya menjadi lebih tenang serta ikhlas.

    Ikan Kecil pun berlalu dengan perlahan, tenang dan seimbang.
    Sembari berlalu, Ikan Kecil berkata kepada dirinya sendiri:
    “Kini telah kupahami bahwa kebahagiaan ada dimana-mana dan telah ada pada masing-masing individu semenjak keberadaannya di dunia. Dengan bersyukur dan menerima segala sesuatu sebagaimana adanya membuat kebahagiaan dapat dirasakan pada setiap napas kehidupannya sendiri. Terima kasih, terima kasih, terima kasih, aku sungguh penuh dengan berkah.”

    Terima kasih.